I. Pendahuluan
A. Data Fisik Buku :
1. Judul Buku : Teuku Umar
2. Penerbit : Balai Pustaka
3. Kota Penerbit :
Jakarta
4. Tahun Terbit : 2001
Sinopsis
Perang
Aceh terhadap Belanda
Ketika perang Aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta
berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, umurnya baru menginjak 19 tahun.
Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri, kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar
sudah diangkat sebagai keuchik gampong(kepala desa) di daerah Daya Meulaboh[3].
Pada
usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang.
Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan
Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim.
Pada
tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dhien, puteri pamannya Teuku Nanta Setia. Suami
Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan
melawan Belanda di Gle Tarun. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan
serangan terhadap pos-pos Belanda.
Teuku
Umar kemudian mencari strategi untuk mendapatkan senjata dari pihak Belanda. Akhirnya, Teuku
Umar berpura-pura menjadi antek Belanda. Belanda berdamai dengan pasukan Teuku
Umar pada tahun 1883. Gubernur Van Teijn pada
saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati
rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer.
Ketika
bergabung dengan Belanda, Teuku Umar menundukkan pos-pos pertahanan Aceh, hal
tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura untuk mengelabuhi Belanda agar
Teuku Umar diberi peran yang lebih besar. Taktik tersebut berhasil, sebagai
kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17
orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pang Laot (panglima Laut])
sebagai tangan kanannya, dikabulkan.
Akhir
perlawanan
Pada akhir tahun1884 Muhammad Daud Syah suda
dianggap dewasa dan mulailah ia menjalankan tugasnya sebagai sultan dengan
berkedudukan di Keumala ( pisie ) . ia dibanti oleh tuanku Hasyim dan
didukung sepenuhnya oleh para ulama
antara lain teungku Cik di Tiro . kepada para hulubalang ia berseru agar
meneruskan dan menggiatkan pengumpulan harta benda untuk perang sabil.
Para ulama bertambah aktif dalam memimpin
pertempuran mencari musuh , terutama setelah pasukan Belanda memustakan dirinya
di Kutaraja dan disekitarnya dengan stesel konsentrasi yang dimulai bulan Maret
1885 di bawah Kolonel Demmenie . yang dijalankan belanda ialah memperketat pos
pos di sekitar inti pertahanan , yaitu sekitar Ulee Lhous dan Kutaraja , kira
kira seluas 50 km2. Lini yang berkonsentrasiterdiri dari 16 pos . pos pos ini
masing masing dikelilingi oleh sebuah daratan luas yang kosong tanpa
Penyerahan
Diri Kembali
Teuku
Umar sendiri merasa perang ini sangat menyengsarakan rakyat. Rakyat tidak bisa
bekerja sebagaimana biasanya, petani tidak dapat lagi mengerjakan sawah
ladangnya. Teuku Umar pun mengubah taktik dengan cara menyerahkan diri kembali
kepada Belanda.
September 1893, Teuku Umar menyerahan
diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaraja bersama 13 orang Panglima bawahannya,
setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan. Teuku Umar dihadiahi
gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland. Istrinya, Cut
Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar
suka menghindar apabila terjadi percekcokan[7].
Teuku
Umar menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda dengan sangat meyakinkan. Setiap
pejabat yang datang ke rumahnya selalu disambut dengan menyenangkan. Ia selalu
memenuhi setiap panggilan dari Gubernur Belanda di Kutaraja, dan memberikan
laporan yang memuaskan, sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari
Gubernur Belanda.
Kepercayaan
itu dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh
selanjutnya. Sebagai contoh, dalam peperangan Teuku Umar hanya melakukan perang
pura-pura dan hanya memerangi Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku
Mat Amin). Pasukannya disebarkan bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk
menghubungi para Pemimpin pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.
Pada
suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan
Pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan
rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata
dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun
sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara dihadapan Belanda untuk
mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan gaji yang diberikan Belanda
secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai
perjuangan[8].
Pada
tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari
dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata,
25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar.
Berita larinya Teuku Umar
menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff dipecat dan
digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera
didatangkan dari Pulau Jawa. Vetter mengajukan
ultimatum kepada Umar, untuk menyerahkan kembali semua senjata kepada Belanda.
Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu. maka pada tanggal 26 April 1896 Teuku Johan Pahlawan
dipecat sebagai Uleebalang Leupung dan Panglima Perang
Besar Gubernemen Hindia Belanda.
Teuku
Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda. Seluruh
komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimginan Teuku Umar. la
dibantu oleh istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima Pang Laot, dan mendapat
dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Pertama kali dalam sejarah perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando.
Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di
wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh
kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada tanggal 1 April1898, Teuku Panglima Polem
bersama Teuku Umar dan para Uleebalang serta para ulama terkemuka lainnya
menyatakan sumpah setianya kepada raja Aceh Sultan Muhammad
Daud Syah.
Asal
Usul Teuku Umar
Teuku
Umar dilahirkan pada tahun 1854 di Meulaboh Aceh Barat , di mana tinggal dan
bulan kelahirannya tidak diketahui dengan pasti. Ayahnya bernama Achmad Machmud
yang berasal dari keturunan Uleebalang Meulaboh. Umar mempunyai saudara
sebanyak enam orang yaitu empat laki laki dan dua perempuan .
Asal usul dari keturunan Teuku Umar adalah sebagai
berikut. Pada permulaan abad ke -17
hubungan antara aceh dan minagkabau rapat sekali. Hubungan itu bukan hanya
lapangan agama , akan tetapi juga dalam lapangan perdagangan. Pada waktu itu
daerah pesisir Minangkabau berhasil dikuasai oleh aceh .
Unsur Intrinsk
Tema : Perlawanan Aceh terhadap Belanda
Alur :
Cerita ini menggunakan alur maju
Latar :
Aceh , Minangkabau , Jawa.
Sudut
pandang : Sudut pandang orang
ketiga . Terdapat dalam kutipan “ Dalam kenyataan selanjutnya sesudah mendapat
senjata dan perlengkapan perang dari Belanda. Teuku Umar kembali berjuang dan
memimpin perang Aceh”
Watak :
1. Teuku Umar : Baik, pantang menyerah. Watak Teuku Umar terdapat pada kutipan “Teuku
Umar seorang pahlawan yang tidak pantang menyerah”
2. Cut Nyak Dien : Seorang bangsawan yang ikut memerangi
penjajahan Belanda watak Cut Nyak
Dienpada kutipan “Tokoh yang tergolongan bangsawan yang tidak pantang menyerah
Amanat :
Jangan menyerah pada saat berperang sebelum dilakukan
Gaya bahasa :
Bahasa tulisan didalam novel Teuku Umar menggunakan gaya bahasa Aceh dan
terdapat bahasa belanda
Unsur Ekstrinsik
Tema sosial : Teuku Umar bekerjasama
dengan rakyat Aceh untuk menjajah Belanda
Nilai moral : Teuku Umar pantang menyerah, tidak
membandingkan beliau dengan rakyatnya
Nilai religi :Panglima Polim pulang ke rakhmatullah.
Kelebihan dan kekurangan novel
Kelebihan dari novel Teuku Umar enak
dibaca karena mengingat para pahlawan
yang telah gugur. Kekurangan dari novel Teuku Umar bahasanya susah di mengerti .
Kesimpulan :
Novel yang berjudul “Teuku Umar “cocok
dibaca oleh kalangan remaja karena didalam novel ini menceritakan tentang
pantang menyerah dan membela negara. Selain itu, novel ini menceritakan
bagaimana taktik pahlawan dalam memperjuangkan tanah air.