Kamis, 17 November 2016

Surat Kuasa

PT. LIDAH BUAYA
                                                            Jl. Mawar No. 4 Medan
Telepon : 081269145935, Fax : 69
                                                                              
Yang bertanda tangan di bawah ini, selanjutnya disebut sebagai pihak pertama. 

Nama lengkap              : Suharto
Nama instansi              : PT LIDAH BUAYA
Jabatan                         : Direktur PT Lidah Buaya
Alamat                         : Jl. Mawar. No 4 Medan

Memberikan kuasa kepada Pihak Kedua:
Nama                           : Rio
Jabatan                         : Kepala Biro Administrasi PT Lidah Buaya
Alamat                         : Jl. Bunga No. 8 Medan

Pihak kedua berhak mendapatkan hak akses penuh dalam menandatngani akta pelepasan hak jual, pengurusan hak guna bangunan atau sebidang tanah serta bangunan PT. Lidah Buaya. Pihak kedua juga ditugaskan dalam menghadapi pejabat lainnya untuk pembuatan surat-surat tanah.

Demikian surat kuasa ini dibuat untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya.

                                                                                                     Medan, 13 Juli 2016
Penerima Kuasa                                                                                    Pemberi Kuasa
                                                                                                                                                                       
         Rio                                                                                                       Suharto


Surat Kuasa
Yang bertandatangan dibawah ini, selanjutnya disebut dengan pihak pertama.

Nama Lengkap            : Cantika
Alamat                         : Jalan Mawar No. 4 Medan
Jenis Kelamin              : Perempuan
Nomor Telp                 : (021)051524

Memberi kuasa kepada pihak kedua.
Nama                           : Roni
Alamat                         : Jln. Mawar 10 Medan
Jenis Kelamin              : Laki-laki

            Dengan ini menerangkan bahwa pihak I menyerahkan sepenuhnya kepada pihak II untuk mengambil uang senilai 500.000.000 di Bank Masa Depan dengan nomor rekening 111111111111. Segala tanggung jawab pemberi kuasa.

Demikian surat ini dibuat untuk dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
                                                                                                           

                                                                                                   Medan, 16 November 2016
Penerima Kuasa                                                                                 Pemberi Kuasa




     Cantika                                                                                                  Roni

Kamis, 10 November 2016





Hasil gambar untuk foto teuku umar novel 





I. Pendahuluan
                                    A. Data Fisik Buku :
1. Judul Buku  : Teuku Umar
2. Penerbit                    : Balai Pustaka
3. Kota Penerbit          : Jakarta
4. Tahun Terbit            : 2001
Sinopsis
Perang Aceh terhadap Belanda
Ketika perang Aceh meletus pada 1873 Teuku Umar ikut serta berjuang bersama pejuang-pejuang Aceh lainnya, umurnya baru menginjak 19 tahun. Mulanya ia berjuang di kampungnya sendiri, kemudian dilanjutkan ke Aceh Barat. Pada umur yang masih muda ini, Teuku Umar sudah diangkat sebagai keuchik gampong(kepala desa) di daerah Daya Meulaboh[3].
Pada usia 20 tahun, Teuku Umar menikah dengan Nyak Sofiah, anak Uleebalang Glumpang. Untuk meningkatkan derajat dirinya, Teuku Umar kemudian menikah lagi dengan Nyak Malighai, puteri dari Panglima Sagi XXV Mukim.
Pada tahun 1880, Teuku Umar menikahi janda Cut Nyak Dhien, puteri pamannya Teuku Nanta Setia. Suami Cut Nya Dien, yaitu Teuku Ibrahim Lamnga meninggal dunia pada Juni 1878 dalam peperangan melawan Belanda di Gle Tarun. Keduanya kemudian berjuang bersama melancarkan serangan terhadap pos-pos Belanda.
Taktik Penyerahan  Diri
Teuku Umar kemudian mencari strategi untuk mendapatkan senjata dari pihak Belanda. Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek Belanda. Belanda berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883. Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer.
Ketika bergabung dengan Belanda, Teuku Umar menundukkan pos-pos pertahanan Aceh, hal tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura untuk mengelabuhi Belanda agar Teuku Umar diberi peran yang lebih besar. Taktik tersebut berhasil, sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pang Laot (panglima Laut]) sebagai tangan kanannya, dikabulkan.

Akhir perlawanan
Pada akhir tahun1884 Muhammad Daud Syah suda dianggap dewasa dan mulailah ia menjalankan tugasnya sebagai sultan dengan berkedudukan di Keumala ( pisie ) . ia dibanti oleh tuanku Hasyim dan didukung  sepenuhnya oleh para ulama antara lain teungku Cik di Tiro . kepada para hulubalang ia berseru agar meneruskan dan menggiatkan pengumpulan harta benda untuk perang sabil.
Para ulama bertambah aktif dalam memimpin pertempuran mencari musuh , terutama setelah pasukan Belanda memustakan dirinya di Kutaraja dan disekitarnya dengan stesel konsentrasi yang dimulai bulan Maret 1885 di bawah Kolonel Demmenie . yang dijalankan belanda ialah memperketat pos pos di sekitar inti pertahanan , yaitu sekitar Ulee Lhous dan Kutaraja , kira kira seluas 50 km2. Lini yang berkonsentrasiterdiri dari 16 pos . pos pos ini masing masing dikelilingi oleh sebuah daratan luas yang kosong tanpa

Penyerahan Diri Kembali
Teuku Umar sendiri merasa perang ini sangat menyengsarakan rakyat. Rakyat tidak bisa bekerja sebagaimana biasanya, petani tidak dapat lagi mengerjakan sawah ladangnya. Teuku Umar pun mengubah taktik dengan cara menyerahkan diri kembali kepada Belanda.
September 1893, Teuku Umar menyerahan diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaraja bersama 13 orang Panglima bawahannya, setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan. Teuku Umar dihadiahi gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland. Istrinya, Cut Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar suka menghindar apabila terjadi percekcokan[7].
Teuku Umar menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda dengan sangat meyakinkan. Setiap pejabat yang datang ke rumahnya selalu disambut dengan menyenangkan. Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari Gubernur Belanda di Kutaraja, dan memberikan laporan yang memuaskan, sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari Gubernur Belanda.
Kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh selanjutnya. Sebagai contoh, dalam peperangan Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amin). Pasukannya disebarkan bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para Pemimpin pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.

Makam Teuku Umar di Mugo RayekPanton ReuAceh Barat.
Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan Pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya. Cut Nyak Dhien pun sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara dihadapan Belanda untuk mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan gaji yang diberikan Belanda secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai perjuangan[8].
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar.
Berita larinya Teuku Umar menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda. Gubernur Deykerhooff dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera didatangkan dari Pulau Jawa. Vetter mengajukan ultimatum kepada Umar, untuk menyerahkan kembali semua senjata kepada Belanda. Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu. maka pada tanggal 26 April 1896 Teuku Johan Pahlawan dipecat sebagai Uleebalang Leupung dan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda.
Teuku Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda. Seluruh komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimginan Teuku Umar. la dibantu oleh istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima Pang Laot, dan mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Pertama kali dalam sejarah perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando.
Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada tanggal 1 April1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para Uleebalang serta para ulama terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada raja Aceh Sultan Muhammad Daud Syah.
            Asal Usul Teuku Umar
Teuku Umar dilahirkan pada tahun 1854 di Meulaboh Aceh Barat , di mana tinggal dan bulan kelahirannya tidak diketahui dengan pasti. Ayahnya bernama Achmad Machmud yang berasal dari keturunan Uleebalang Meulaboh. Umar mempunyai saudara sebanyak enam orang yaitu empat laki laki dan dua perempuan .
            Asal usul dari keturunan Teuku Umar adalah sebagai berikut. Pada permulaan abad  ke -17 hubungan antara aceh dan minagkabau rapat sekali. Hubungan itu bukan hanya lapangan agama , akan tetapi juga dalam lapangan perdagangan. Pada waktu itu daerah pesisir Minangkabau berhasil dikuasai oleh aceh .
           
Unsur Intrinsk
Tema                          : Perlawanan Aceh terhadap Belanda
Alur                             : Cerita ini menggunakan alur maju
Latar                            : Aceh , Minangkabau , Jawa.
Sudut pandang            : Sudut pandang orang ketiga . Terdapat dalam kutipan “ Dalam kenyataan selanjutnya sesudah mendapat senjata dan perlengkapan perang dari Belanda. Teuku Umar kembali berjuang dan memimpin perang Aceh”

Watak                          :

1.      Teuku Umar    : Baik, pantang menyerah.  Watak Teuku Umar terdapat pada kutipan “Teuku Umar seorang pahlawan yang tidak pantang menyerah”
2.      Cut Nyak Dien  : Seorang bangsawan yang ikut memerangi penjajahan Belanda  watak Cut Nyak Dienpada kutipan “Tokoh yang tergolongan bangsawan yang tidak pantang menyerah

Amanat                       : Jangan menyerah pada saat berperang sebelum dilakukan
Gaya bahasa                : Bahasa tulisan didalam novel Teuku Umar menggunakan gaya bahasa Aceh dan terdapat bahasa belanda
           
Unsur Ekstrinsik
Tema sosial : Teuku Umar bekerjasama dengan rakyat Aceh untuk menjajah Belanda
Nilai moral  : Teuku Umar pantang menyerah, tidak membandingkan beliau dengan rakyatnya
Nilai religi   :Panglima Polim pulang ke rakhmatullah.

Kelebihan dan kekurangan novel
Kelebihan dari novel Teuku Umar enak dibaca karena mengingat  para pahlawan yang telah gugur. Kekurangan dari novel Teuku Umar bahasanya susah di mengerti .

Kesimpulan  :
Novel yang berjudul “Teuku Umar “cocok dibaca oleh kalangan remaja karena didalam novel ini menceritakan tentang pantang menyerah dan membela negara. Selain itu, novel ini menceritakan bagaimana taktik pahlawan dalam memperjuangkan tanah air.